Selasa, 12 September 2017

Sederhanakan Pernikahan


Pernikahan itu ribet, hanya bagi orang-orang yang sedang repot.
Pernikahan itu membosankan, hanya bagi orang-orang yang sedang bosan.


Pernikahan itu menyakitkan, hanya bagi orang-orang yang sedang sakit.
Pernikahan itu menambah masalah, hanya bagi orang-orang bermasalah.
Pernikahan itu menjemukan, hanya bagi orang-orang yang sedang jemu.
Maka jika kau ingin pernikahanmu bahagia, menyehatkan, sekaligus penuh berkah…
Engkau harus bahagia, agar pernikahanmu terasa sempurna
Engkau harus ikhlas, agar mampu menerima setiap lika likunya
Engkau harus siap, agar tak terkejut dengan segala perhitungannya.

“Nak, kau ingin pernikahan yang seperti apa?” Ibu bertanya halus. Namun pertanyaan itu mampu mengguncang perasaanku. Pernikahan?

Sudah sering aku memikirkannya. Tapi…

“Yang sederhana saja, bu.”

“Apakah itu berarti tidak ada pesta? Apa kata keluarga nanti, teman-temanmu, juga para tetangga?” Entah kenapa, ibu begitu antusias membahas pernikahanku pagi ini. Padahal, calon saja belum ada!

“Boleh dong pesta. Tapi secukupnya saja ya. Jangan berlebihan, apalagi sampai hutang untuk menutup biayanya?” Ujarku tegas. Ibu tersenyum lembut.

“Ibu, emang ingin aku menikah….sama siapa?” Tanyaku heran. Entah sudah berapa kali ibu berusaha membahas masalah pernikahan denganku. Sementara aku memilih bisu. Bukan, bukan karena tak mau. Gadis mana yang tak mau menyempurnakan separuh agama?

Tapi lebih dari itu, aku belum tahu hendak menikah dengan siapa. Selama ini, aku juga tidak menutup hati agar lebih mudah menerima cinta. Tapi rupanya Allah belum ridha. Mungkin dalam pandanganNya, aku belum siap, atau dia yang entah dimana sedang mempersiapkan diri?

Kata mereka, jodoh adalah rahasia. Kita tak bisa menyangka akhirnya menikah dengan siapa. Tapi bukankah kita juga manusia biasa yang diberi kemampuan mengolah rasa? Ah, semakin dipikir, semakin membingungkan rasanya.

Maka aku memilih diam. Pacaran tak pernah jadi penyebab paling indah dalam mahligai pernikahan. Maka aku tak ingin menjalaninya. Biar, biar saja kujalani hidup apa adanya. Berbahagia dengan sahabat, teman, saudara.

“Dengan seorang lelaki terbaik pilihan Allah.” Ibu menjawab mantap. Aku hampir menitikkan air mata, terharu.

Bukan lagi ukuran materi atau prestasi yang menjadi pertimbangan. Bukan pula gelar dan jabatan yang bisa melegakan. Bukankah ridha Allah cukup untuk membuat kita selalu merasa tenang?


“Insya Allah..” Jawabku lirih. Dalam hati terlantun harap, Duhai Robbi… yakinkanlah dia yang engkau ridhoi menjadi imam di dunia dan akhiratku untuk segera melangkah, mengajakku merajut masa depan. Duhai pemilik hati, jadikan pernikahan sebagai pilihan terbaik bagi kami. Agar dapat saling menguatkan untuk membangun keluarga dala ridhaMu.


#CelotehPagi
#ODOP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kaos ODOP

Hasil jadi kaos Kira-kira tiga atau empat bulan pasca Kopdar Akbar ODOP pertama, ada wacana ingin membuat kaos ODOP. Koordinatornya...