Kamis, 12 Oktober 2017

Cerita Hari Ini: Tukang Parkir.


“Aya..ayo parkir sini. Tolong itu geser dikit ke selatan, le.” Ujar sang bapak kepada anaknya. Di jawa, panggilan “le” ditujukan kepada anak lelaki, singkatan dari “thole”. Aku parkir sembarangan, karena memang lokasinya sedang penuh. Ah, sudah mirip emak-emak ya, pagi-pagi ke pasar, parkir sembarangan, ngga mikir itu nanti ada truk besar lewat terus nyeggol sepeda motor, gimana?


Kan ada tukang parkir, batinku. Lagipula si bapak langganan sudah siap merapikan motor yang kubawa. Setelah mencabut anak kunci, aku ngeloyor pergi, masuk ke dalam pasar mencari beberapa bahan yang harus kubeli pagi ini.

Bapak tukang parkir itu, aku tak tahu namanya. Tapi kami cukup akrab karena sejak tinggal di sini, aku jadi sering main ke pasar. Main? Belanja lah, calon emak yang baik. Eh, bukan. Ini hanya karena tuntutan kebutuhan. Awalnya aku asal parkir, ada banyak tukang parkir yang menjaga “wilayah” masing-masing di depan pasar tradisional dekat rumah paman. Sampai akhirnya ketika belanja bareng umik, beliau menyarankan untuk parkir di tempat bapak itu, karena lebih dekat dengan pintu masuk juga sih. Jadi langganan deh. Kata umik, bapak itu dulu murid umik waktu sekolah, dan pemuda yang biasa membantu menata motor adalah anaknya. Usianya sang bapak mungkin sekitar 50 tahun, atau lebih. Sementara anaknya, sekitar 20 tahun-an, mungkin. Jadilah bapak-anak berprofesi sebagai tukang parkir. Aku hanya mengangguk-angguk sok ngerti waktu mendengar cerita umik.

Ah, pagi ini tidak banyak yang harus kubeli. Hanya bahan sayur lodeh termasuk cingur, bumbu, tomat, tempe, dan jagung manis. Eh ya, aku pengen beli udang. Sepertinya enak digoreng sama tepung bumbu. Tidak butuh waktu lebih dari setengah jam untuk mendapat semua bahan yang kubutuhkan (meskipun sampai di rumah, aku baru ingat ketinggalan beli kelapa parut buat santan, duh. Tapi tak masalah, di lemari dapur masih ada empat bungkus Kara yang siap digunakan, alhamdulillah).

Saat keluar dan menata belanjaan, bapak tukang parkir sedang santai. “Udah belanjanya neng?” tanyanya ramah. Aku menjawab santun, “Sampun, pak.” Beliau mungkin sudah hafal dengan wajahku. Ya, secara sering parkir di situ. Sambil memutar motor sesuai arah tujuan, dan aku bersiap naik, tiba-tiba bapak itu bertanya, “Sampean dereng sima, nggeh?”

What?

Aku hanya mengernyitkan dahi. Dulu waktu awal-awal ke pasar, beliau tidak mengenalku sampai aku ke  pasar bareng umik. Besoknya ke pasar lagi sendiri beliau tanya, “Oh, jadi sampean yang tunggu di rumah selama ditinggal haji?” aku hanya tersenyum, “Nggeh, ngerencangi umik kalian abah.” Setelah itu, tak ada dialog khusus yang kuingat. Lalu, kenapa pagi ini tiba-tiba beliau bertanya “hal aneh” semacam itu?

Aku hanya tersenyum lebar menanggapinya. “Dereng, pak.” Jawabku masih sedikit ragu, kenapa bapak ini bertanya begitu?

“Lha pripun, dipadosaken nopo? Njaluk joko, ta dudo, ono kabeh nek gelem.” Tanpa basa-basi, aku tergelak. Apaan coba?

"Pangestunipun mawon, pak." Ujarku singkat, memohon agar beliau berkenan mendoakanku,  beliau tersenyum. “Iyo, tak dungakno nduk.”

 Apa sebenarnya yang membuat seseorang tergerak hatinya untuk mendoakan? Rasa iba, kasih sayang tanpa rencana? Atau murni karena hati itu digerakkan olehNya?

Monggo, pak.” Aku berpamitan. “Iyo, nduk.” Ujar sang bapak sambil menahan laju kendaraan di belakangnya agar lebih pelan saat aku masuk ke badan jalan. Masih dengan senyum tidak jelas, kutarik gas menuju pertigaan sambil menggerakkan tombol sein ke kanan.

Sepanjang jalan aku masih tak mengerti kenapa ada kejadian aneh pagi ini. Tapi prasangkaku tetap memimpin diri: kita tak pernah tahu, dari lisan siapa soa itu dikabulkanNya. Maka teruslah berprasangka baik, menjaga hubungan baik dengan siapapun. Maka rencana-rencana baik itu akan berjalan baik dengan sendirinya, insya Allah.

1 komentar:

Masa Depan RCO

Reading Challenge ODOP atau disingkat RCO saat ini sudah masuk angkatan ke-3. Aku sudah pernah ikut ketiganya. RCO pertama, zaman admin ...