Minggu, 26 November 2017

Dari Novel Kita Belajar (sebuah review novel)





Ya, belajar. Bahwa dunia tak sesempit pandangan mata. Bahwa takdir telah terlukis dengan sempurna, tentu istimewa pula caranya menjadi nyata.


Meski kadang berkalang lara, berselimut duka, bahkan bersenandung nestapa. Sungguh, bagian itu akan tetap indah jika dijalani dengan segenap prasangka baik atas kesudahannya, dan rasa percaya bahwa kehendakNya tak pernah mengarahkan hamba hanya melakoni rasa kecewa.

Novel ini menceritakan, sekaligus mengajarkan bahwa pernikahan (oh please, soal ini *lagi?) adalah perkara sederhana sekaligus rumit. Yah, maklum. Bahasan tentang nikah memang ngga ada habisnya. Udah ah, yuk ngomongin novel aja. Kan kita  lagi belajar dari salah satu novel terkenal dalam sejarah sastra Indonesia.

Mengapa demikian?

Ya.. Karena pertama: Jodoh yang dijodoh-jodohkan bisa jadi akhirnya tidak berjodoh, dan jodoh sesungguhnya bagaimanapun dihalangi tetap saja akhirnya menjadi suami istri. Seberapapun kuat adat menggariskan takdir perjodohan, tetap saja kalah dengan ketetapan Tuhan. Namun demikian, kekuatan hati dua insan yang menjadi nakhodanya tetap jadi penentu pertahanan bahtera rumah tangga di sepanjang perjalanan.

Kedua: benarlah bahwa jodoh adalah cermin. Pantulan diri dalam pribadi berbeda jenis kelamin. Mungkin hal ini mudah disangkal karena banyaknya pasangan dengan karakter yang saling bertolak belakang. Namun jika diamati lebih jauh, selalu ada benang merah yang seirama diantara keduanya.
Ketiga: beruntunglah kita, atau siapapun jua yang memiliki orang tua bijaksana. Tak hendak memaksakan pernikahan harus terjadi dengan siapa, tak perlu menentukan masa depan harus seperti apa.

Keempat: jadi perempuan itu harus kuat. Baik fisik, mental, juga akal. Secara fisik, pasca eprnikahan perempuan akan diuji untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang jika dituruti, seolah tak ada habisnya. Mulai dari membuka mata hingga terpejam meski tanpa rencana. Tentu dengan hasil luar biasa: rumah tertata, makanan tersedia, dan rasa nyaman siapapun untuk tinggal berlama-lama. Bermalas-malasan mungkin tidak ada yang melarang, tapi tentu saja pekerjaan rumah yang tidak diselesaikan hanya akan membuat mata lelah, tubuh mudah bosan dan jauhd ari rasa nyaman yang didambakan.

Secara mental, ujian akan datang dalam bentuk hubungan sosial baru di lingkungan pasangan. Mungkin tak semua orang bisa dengan mudah menerima. Tetaplah berbaik sangka dan melakukan yang terbaik di setiap kesempatan. Biarkan orang lain menilai dari tindakan, bukan sekedar ucapan. Kalau ngga kuat? Bisa mental alias terpelanting, menjauh dari pokok kehidupan dan jatuh sembarangan.

Secara akal, perempuan diuji untuk bertahan, memikat perasaan, sekaligus menjadi pengajar yang handal. Usahlah diperinci lagi karena pasti bisa kau pahami perkara sederhana ini.
Jadi perempuan itu harus pandai memasak, mematut, juga menjaga diri. Ini bukan perkara kecentilan atau semacamnya, memang fitrah perempuan demikian adanya.

Kelima: siap menikah itu bukan berarti hanya siap dengan kesenangannya saja. Namun lebih dari itu, harus siap menanggung konsekwensi dari kehidupan yang sebelumnya sendiri menjadi berdua, kemudian bertiga dan terus bertambah dengan kehadiran anak-anak.


Keenam: alangkah bijak nenek yang berpikir: justru bangsawan yang berpangkat tinggi itulah yang harus mengetahui segala kepandaian yang berguna bagi orang biasa, supaya dia dapat memberi petunjuk kepada mereka yang harus mengerjakannya. Kemudian sang nenek mengajarkan segala ihwal wanita berumah tangga. Mulai dari bangun pagi, menuju dapur, memilih dan memilah pekerjaan mana yang harus didahulukan, membersihkan mana yang harus disegerakan, lalu menata dan merapikan, membersihkan sisa kreatifitas, mengurus suami dan anak tanpa meninggalkan kewajiban pribadi sebagai hamba, dan sebagainya. 

Ini seperti: meninggikan budi, merendahkan hati. 

Eh, tau kan novel apa ini? Ya, betul! Memang Jodoh- karya Marah Rusli.

Saya belum selesai baca, mungkin tulisan ini bisar bertambah nanti, jika ada yang perlu di catat lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."