Rabu, 15 November 2017

Meikarta, Apa Salahnya?



Pulau baru sudah terbentuk. Kata orang-orang modern, itu namanya proyek reklamasi. Mengubah laut jadi daratan, membuatnya memungkinkan jadi tempat tinggal. Bukan hanya itu, pulau baru tersebut dijadikan lahan bisnis, “pabrik uang baru” bagi sebagian kalangan yang konon layak disebut sebagai investor. Ah, betapa banyak orang yang menyayangkan terciptanya proyek baru itu. Apa salahnya?


Ribuan penduduk local yang mendiami bibir pantai dekat area reklamasi harus menerima imbasnya. Mereka kini tak punya tempat tinggal, kehilangan pekerjaan, bahkan mungkin harapan dan masa depan. Bagaimana nasib anak-anak mereka? Apa dosa mereka sehingga seolah “dibuang” begitu saja demi ambisi sebagian kecil penguasa?

Belum lagi dampak lingkungan yang ditimbulkan. Biota laut dan ekosistem di area reklamasi dan sekitarnya harus musnah. Berapa juta makhluk yang harus jadi korban? Ah, ngilu rasanya membayangkan. Perihnya jerit tangis dan keluh mereka, siapa yang bisa menyelamatkan? Bukankah menyelamatkan satu kehidupan setara dengan menjaga keamanan seluruh alam? Tentu saja hal itu berlaku sebaliknya. Satu kehidupan yang musnah sia-sia berarti hancurnya kehidupan seluruh alam. Ya, kehidupan nyata memang masih tampak baik-baik saja. Namun kehidupan dalam hati, mungkin sudah mulai mati.

Siapa yang patut disalahkan? Pemerintah? Oh, please. Pemerintah bukan tak mau tahu soal semacam ini. Siapa lagi yang memberi izin jika bukan mereka? Kalaupun tidak ada izin (karena dalih yang saling lempar antara Lembaga satu dengan Lembaga lain), apakah proyek ini berjalan tanpa izin, lalu bangunan demi bangunan itu berdiri ajaib begitu saja?

Sudahlah, tak ada gunanya kita berdebat lebih panjang. Kalau pemerintah bisa “membenarkan diri” dengan berjalannya proyek ini, tentu kita (atau hanya sebagian dari kita) juga bisa bersikukuh bahwa proyek ini berjalan di tempat dan cara yang salah!

Tapi percuma. Apa gunanya kita mendebat mereka (siapapun yang terlibat dalam proyek ini) jika mereka bersikukuh tetap melanjutkan dengan segudang alasan, Sementara kita berniat membatalkan tanpa dukungan kekuasaan?

Cukup, sudah cukup. Yang perlu kita lakukan bukan lagi berdebat. Sudah saatnya kita fokus pada solusi, apa yang bisa kita lakukan untuk mempertahankan keutuhan negeri tercinta? Menyelamatkannya dari tangan asing dan aseng yang kian hari kian semena-mena terhadap bangsa kita? Ah, entah omelan ini tertuju kepada siapa. Mungkin tulisan ini juga sekedar ungkapan kejengkelan dalam hati saja. Tapi bukankah kekuatan-kekuatan besar berasal dari kemauan yang diutarakan?

Yuk, mari terus memperbaiki diri, memperbaiki bangsa kita agar tak mudah terpedaya. Yang harus kita lakukan adalah menjaga diri dan orang-orang sekitar kita dari kebodohan. Ya, itulah pangkal dari kekuatan: ilmu. Tanpa ilmu, kita hanya gelas kaca kosong yang jika ditumbangkan, bisa pecah berkeping-keping lalu layak untuk dibuang, tanpa perasaan.

Mari terus belajar, tentang politik, ekonomi, literasi, perdagangan, apapun yang bisa kita pelajari, dari manapun sumbernya, layak kita terima dengan filter iman yang kuat. Ya, keyakinan kita perlu diperkuat, agar tak salah memilih dan memilah jalan. Ah, semakin banyak yang ingin disampaikan, semakin bingung bagaimana mengatur kalimat. Semoga kau mengerti, sobat.

Biarlah mereka meneruskan pembangunan demi pembangunan, mewujudkan cita-cita, menciptakan negara dalam negara. Toh penguasa kita mengizinkan? Mereka tak akan tersentuh hukum dan suara kita akan tetap terabaikan. Lebih baik bagi kita untuk menyusun cita-cita yang tak kalah istimewa, menyebarluaskan pemahaman kita dengan cara yang tak biasa namun banyak diterima, kemudian perlahan tapi pasti, kita miliki kekuatan tak kasat mata, siap memutarbalikkan fakta, mengembalikan kebenaran pada tempatnya. Lakukan apa yang bisa kita lakukan, Jangan melakukan dan mengatakan apa yang tidak ada pada diri kita, Allah tak suka kan?

Bingung? Mari kita diskusikan.


1 komentar:

  1. Heemm... pening juga. Tapi yah benar, lakukan apa yg bisa kita lakukan.

    BalasHapus

Kaos ODOP

Hasil jadi kaos Kira-kira tiga atau empat bulan pasca Kopdar Akbar ODOP pertama, ada wacana ingin membuat kaos ODOP. Koordinatornya...