Minggu, 31 Desember 2017

Maqoshid Adalah Mashlahat


Tak terasa, sudah hari ke empat belas Readig Challenge ODOP’2 tingkat 1. Artinya, ini hari terakhir di fase tingkat 1. Besok boleh libur laporan ya, tapi boleh ngga libur baca *SenyumManis.


Iya, besok libur laporan RCO. Sementara hari ini hari terakhir nulis tantangan tentang kesan membaca buku. Hayo siapa yang belum setor tantangan? Kuy, segerakeun. Besok ada pengumuman kelulusan Tingkat 1, terus hari Selasa kita bisa mulai Tingkat 2 bagi yang lulus. Oke?

Saya juga mau berbagi kesan membaca salah satu buku, nih. Pada tingkat 1 RCO ini saya menyelesaikan 2 buku dan satu ebook yang masih otewe , baru mulai baca semalem sih. Dan entah hari ini bisa selesai atau ngga buku ketiga ini.

Dari dua buku yang sudah selesai, satu buku fiksi dan satu buku non fiksi. Awalnya saya mau nulis kesan  membaca buku yang fiksi aja. Biar sekalian garap tantangan kelas fiksi tentang review buku fiksi. Tapi dipikir-pikir lagi, beda ternyata ya. Di kelas fiksi minta review. Sementara RCO kesan membaca. Hihi… Ngga jadi “bandel” deh.

Baiklah, dari dua buku yang sudah selesai itu, sejujurnya lebih berkesan membaca buku non fiksi. Judulnya: Maqoshid Bisnis dan Keuangan Islam, Sintesis Fikih dan Ekonomi. Karya dua pakar Ekonomi Syari’ah di Indonesia: Dr. Oni Sahroni, M.A dan Ir. Adiwarman Karim, S.E., M. B. A., M.A.E.P.

Ini buku, membuat saya merasa fresh, segar kembali. Seperti baterei yang baru di charge, bunga yang baru disiram, atau tenggorokan kering yang disiram air murni. Adem. Kok bisa?

Bidang yang saya pelajari selama ini adalah Ekonomi Islam. Meski awalnya “tersesat” (ini panjang lagi ceritanya, jadi ngga perlu diceritakan ya) tapi akhirnya saya bahagia mendapat kesempatan mempelajari bidang ini. Sudah beberapa bulan terakhir, setelah menyelesaikan tesis, saya jarang membaca buku yang sesuai bidang. Males? Bukan. Cuma ngga dijadikan prioritas. Yah, maklum kan sudah ngga ada tugas kuliah. Jadi ngga ada yang “memaksa” membaca buku dan mengerjakan tugas lagi. Padahal, sesungguhnya ini tetap kewajiban.

Apa yang paling mengesankan dari buku ini?

Bagi saya, selain penjelasan tentang maqoshid secara panjang lebar, buku ini seolah menjelaskan dengan sangat bijaksana bahwa: kita hidup (sebagai muslim) jangan merasa terpaksa dengan syari’at. Hukum Allah digariskan melalui Al Qur’an dan Hadits itu sesungguhnya membawa mashlahat (Kebaikan) bagi kehidupan kita pribadi maupun sosial.

Maqoshid syari’ah adalah mashlahat dan mashlahat adalah maqoshid syari’ah (hlm. 4)

Kalau kita menginginkan kebaikan dalam setiap hal dalam hidup ini, maka turuti saja syari’at. Pasti ada kebaikan yang kita temui dibalik semua ketetapan tersebut. Kalaupun dirasa berat, tidak sesuai dengan kemampuan, percayaah bahwa Allah tidak membuat ketetapan itu untuk memberatkan kita. Tidak ada satupun ketetapan Allah yang bertujuan memberi bencana atau keburukan bagi manusia. Ngga percaya? Contoh kecil saja, perkara shalat. Bagi orang normal dan sehat, shalat harus dilakukan sambil berdiri, sesuai rukun dan syaratnya. Tapi bagi orang sakit yang tidak kuat berdiri? Allah memberi ketetapan lain, memberinya keringanan, bukan untuk tidak melakukan shalat, tapi membolehkan untuk shalat sambil duduk atau berbaring. Bahkan hanya dengan isyarat. Maksud (maqoshid) nya apa? Adalah membuat seseorang terus mengingat Allah. Itulah tujuannya, supaya seorang muslim tidak lepas ikatan dengan Allah sehingga imannya tetap terjaga, dimanapun dan dalam kondisi apapun.

Ini hanya contoh kecil. Begitu juga dengan contoh-contoh lain, termasuk dalam transaksi, menutup aurat, ibadah yang lain, semuanya ada maksud kebaikan yang Allah selipkan pada setiap ketetapan.

Buku ini membahas secara rinci tujuan syari’ah dalam bisnis dan keuangan Islam,termasuk pembahasan tentang riba dan transaksi dalam Lembaga keuangan Syari’ah,  jadi kuy yang mau belajar lebih banyak lagi, baca sendiri ya. Hehee… Atau itu bolehlah kita diskusi bareng.

Baik, ini sekilas tentang kesan membaca yang saya alami.

Yuk, terus membaca.


Selamat liburan dan sampai jumpa  di tahun depan 😉

#OneDayOnePost
#TantanganRCO'2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kaos ODOP

Hasil jadi kaos Kira-kira tiga atau empat bulan pasca Kopdar Akbar ODOP pertama, ada wacana ingin membuat kaos ODOP. Koordinatornya...