Senin, 25 Desember 2017

Setelah Menikah Nanti (6)



Hari senin yang baik, mari kita berbagi tentang kebaikan dalam pernikahan. ini sekedar hasil pengamatan, bukan hasil penelitian yang harus dipertanggungjawabkan.

Apa yang dicari orang dari pernikahan? jawabannya pasti beragam. Sesuai dengan alasan masing-masing mengambil keputusan dalam memilih pasangan. Ada yang ingin kaya, karena calon pasangannya pengusaha atau keturunan orang kaya, misalnya. Ada yang menginginkan kebesaran nama, karena calon pasangannya keturunan orang terpandang, atau sudah terkenal duluan, bisa jadi. Atau, mungkin juga orang menikah karena ingin meredam keinginan diri akan kesempurnaan fisik, karena pasangannya cakep atau cantic, mungkin. Yang jelas, hampir semua  orang menikah karena ingin mencari ketenangan dalam diri.

Ketenangan itu wujudnya sangat subjektif, tergantung pada masing-masing pribadi dan orientasinya dalam hidup ini. Orang-orang yang suka dengan gelimang harta, dijadikan merasa tenang dengan keberadaan harta di sekelilingnya. Orang-orang dengan rasa ketertarikan terhadap bentuk fisik, dijadikan tenang jika berada dekat dengan orang-orang cantik. Pun orang-orang yang suka menyandang nama, dijadikan tenang ketika merasa terkenal, diakui, punya jabatan, dan sebagainya. Pengakuan sosial dan rasa tenang dalam pribadi manusia bisa jadi sangat berkorelasi positif.

Sayang, tidak semua pernikahan bertemu dengan ujung pencarian. Tidak semua harapan pernikahan itu jadi nyata, kak. Itulah kenapa banyak terjadi pertengkaran, ketidakmengertian, bahkan perceraian. Seseorang pernah bilang padaku, “Turunkanlah level ekspektasimu terhadap pernikahan sampai titik paling rendah, supaya kamu tidak kecewa dengan kenyataan dan kau bisa tetap merasa bahagia, apapun yang terjadi dalam pernikahanmu nanti.”

Robbanaa maa kholaqta hadzaa bathilaa, ….

“Tidaklah Tuhan kita menciptakan segala sesuatu itu sia-sia, ….”

Tak satupun tercipta sia-sia. Itu janjiNya.

Kak, setelah menikah nanti, aku tak ingin banyak berjanji. Supaya tak jadi beban hati. Supaya tak banyak hal yang harus kutepati. Izinkan aku untuk berjanji untuk selalu berusaha menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Izinkan dan bantu aku menjadi satu-satunya istri yang kau cintai, ibu dari anak-anak yang kau kasihi. Bukan karena materi, kecantikan atau nasab diri ini. Bukan, kak. Pilihlah aku karena Allah, karena agama yang kau lihat berusaha selalu kujaga. Aku tak ingin berjanji tidak akan pernah marah atau kesal padamu. Itu hampir mustahil meski sekarang serasa tak mungkin terjadi. Aku juga tak ingin berjanji tidak akan membuat suamiku kesal nanti. Toh bagaimanapun keras aku berusaha selalu membuatmu senang, kita sama-sama manusia biasa yang tak luput dari fitrah sebagai manusia yang jauh dari sempurna.

Semoga kita bisa berusaha saling menguatkan, menasehati dalam kebaikan, dan tetap berpegang kuat pada ajaran agama di setiap langkah yang kita lalui bersama.

Eh, apa ini berarti aku berharap pada keputusanmu? Sepertinya aku harus minta maaf jika membuatmu berpikir begitu. Aku tidak berhak dan aku tahu itu. Maaf, kak. Kalaupun bukan aku yang harus jadi pilihan pendaming hidupmu, aku rela. Semoga dia yang kau pilih memiliki kepribadian yang jauh lebh baik dariku. Begitu juga denganku. Semoga Allah berkenan menghadirkan untukku seorang yang shalih, yang bisa mengerti dan tak sulit dipahami. Yang dewasa dan mengerti arti diri.

Mari kita saling mendoakan ya, kak.


1 komentar:

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...