Sabtu, 20 Januari 2018

Bukan Emak-Emak Setrong


Jam 12 siang, kami jaga toko hanya berdua. Kalau beberapa bulan yang lalu jaga toko bisa berlima bahkan berenam, terutama saat jam ramai yaitu pagi atau sore hari, hari ini hanya berdua saja. Entah kenapa dan kemana yang lain, tak perlu dipertanyakan karena aku juga tak punya jawaban.


Tiba-tiba listrik padam. Biasanya ini terjadi saat hujan deras, tapi rupanya saat ini giliran pemadaman ngga kenal hujan atau terang. Ah, ya! Kami harus menghidupkan genset sebagai cadangan energi lampu dan komputer kasir. Kami punya waktu antara 5-10 menit sebelum computer padam sendiri. cukup, sangat cukup, seharusnya.

Sayang, sudah lama sekali aku tidak menghidupkan genset, apalagi sebelumnya masih dibantu mas-mas karyawan atau penjaga warnet sebela. Kali ini? Pembeli masih terus berdatangan, sementara kami harus bergantian menjaga kasir. Jujur, saya agak lupa SOP-nya. Rekanku, Veni, mencabut semua akses listrik untuk dua freezer dan tiga chiller. Oke, aku ke belakang, mencoba menyalakan genset dengan membuka kran bensin dan menarik tuas. Dan ya, berhasil!.

Yeey, hanya anak gadis keren yang mampu meghidupkan genset tanpa harus teriak-teriak minta tolong sama mas-mas penajga warnet di sebelah. Bahkan salah satu sales yangd atang mengecek pekerjaan kam dan dinilai cukup berhasil. “Cuma gasnya kurang besar dikit, Mbak.” Ujarnya sambil celingukan mencari tuas gas. Entah ketemu atau tidak, “Tolong carikan ya, Pak.” Aku ilang begitu sambil ngeloyor ke depan setelah Si Bapak menyanggupi.

Sekitar 10 menit berlalu Pak Sales pergi dan kami dengar genset mati sendiri. tapi lampu tetap nyala. Oh oke, listrik nyala, kami aman. Alhamdulillah…

Lima menit berselang, tiba-tiba lampu mati semua. “Eh, listrik mati lagi. Genset!” Seruku kepada Veni. Sambil melangkahkan kaki ke belakang dan mencoba menyalakan genset dengan cara yang sama, tapi tak berhasil juga. Padahal keringat sudah mengalir deras, membasahi baju berbahan katun yang kukenakan sejak pagi. “Ah, aku nyerah.” Ujarku lemas. Veni paham, langsung ke belakang dan beraksi. Berhasil! Tenaganya lebih strong dari mas-mas penjaga salon, rupanya.

Namun kenapa lampu ngga mau nyala? Semenit kemudian,… dudududu….suara genset padam. Kami mencoba nyalakan, berulang kali namun tak berhasil juga. ketika kembali ke depan, computer kasir sudah mati. Ah, nasib! Terpaksa beberapa pembeli kami layani secara manual. Mau gimana lagi? Kucobe menghubungi Om, memastikan prosedur yang kulalui untuk menyalakan genset. Tapi tak diangkat. Wajar, ini jam sibuk. Mungkin saja Om masih rapat atau dalam perjalanan.

Jangan panik! Ujarku pada diri sendiri.

“Mbak, ini gimana? Tutup aja po? Udah jam segini juga?” Veni tampak bingung. Aku harus cepat ambil keputusan. Kami hanya berdua, sebentar lagi pembeli akan banyak masuk toko karena jam pulang sekolah, sementara komputer mati. Sekarang masih ada beberapa pembeli mencari papan alas tulis dan satu sales  Avail yang menunggu. Kalau terus buka, kami tidak bisa mengurus semuanya begitu saja. “Oke, tutup.” Jawabku tanpa minta pertimbangan yang punya toko. Maaf ya tante, Om… hehe

Setelah selesai dengan sales dan pembeli, kubuka lagi HP, ternyata Om telepon balik. Pintu toko sudah hamper tertutup sempurna. Kemudian kutelepon balik Om, menjelaskan situasinya. Dengan panduan dari Om, kulaksanakan langkah demi langkah.

1.    Matikan semua MCB
2.    Cabut kabel atau matikan semua chiller dan freezer
3.    Buka tuas kran bensin (ke bawah)
4.    Arahkan power listrik di atas genset ke paling bawah (tuas listrik ini bisa diarahkan ke bawah, tengah dan atas. Pas genset nyala harus di posisi paling bawah)
5.    Tarik tuas genset sekuat tenaga, sampai diesel nyala. Jangan lupa pastikan bensinnya masih ada.
6.    Besarkan sedikit demi sedikit gas genset sampai mesin terdengar stabil
7.    Nyalakan MCB satu per satu. Ada 3 MCB, bisa dinyalakan dua saja. Sepertinya MCB paling kanan itu untuk listrik bagian belakang, kalau siang tak perlu dinyalakan, hemat tenaga.

Berhasi! Yeey….

Lampu berhasil menyala, komputerpun bisa tutup kas siang. “Gimana, mbak mau buka lagi?” Tanya Veni.

“Udah tutup aja, istirahat abis perang sama genset.” Kalimatku disambutnya dengan senyum. Kami bergegas menghitung kas, membereskan meja kasir dan pulang. Eh, baru mau buka gerbang dan mengeluarkan motor, ada satu kiriman lagi datang. Ah, Bapak kurir! Baiklah, kami harus cek dulu lalu pulang.

"Susah semua, mbak. Cuma ini kok. Maaf ya kami sudah menghambat perjalanan kalian selanjutnya." Ujar Si Bapak sopan. Kami tersenyum melepas langkahnya di tengah keramaian.

Sekarang, hampir Ashar, aku baru bangun setelah ketiduran sejenak dan bermimpi masuk hutan. Mungkin masih kangen kemah bareng teman-teman. Tuh, kan…baru ingat kalau tadi lupa bawa galon pulang… kan air minum di rumah habis tadi pagi. -_-

Baik, kami memang bukan emak-emak setrong pengantar keripik singkong tadi pagi, yang nyetir mobil diesel dan mengantar ratuan bungkus kripik ke toko-toko sendiri, bukan pula emak-emak tukang masak dan antar anak sekolah lalu ngerumpi. Tapi sebagai gadis zaman kini, bisa menyalakan genset bolehkah dinilai sebagai prestasi tersendiri.


Udah, ah…lapar. Mau makan dulu lalu buka toko lagi. 

#30DWC
#Day10
#ODOP
#OneDayOnePost

11 komentar:

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."