Jumat, 26 Januari 2018

Pelajaran Mantu Salak


Langit ragu. Kusebut begitu karena mendung bergelayut tak sempurna. Terik namun tak mengeringkan tanah dan jalanan. “Kamu ikut Ibu ya.” Itu bukan ajakan, tapi kata perintah. “Males, ngantuk, capek, mau tidur saja saya.” Nining menyahut malas. “Emang tau, mau kemana?” Sahut ibu cepat.

Nining menggeleng. Sebenarnya dia hapal. Musim liburan begini, ibunya tak pernah rela melihat sang anak menganggur. “Ke kebun. Yuk?” Sekali lagi, itu perintah, bukan ajakan. Apalagi tawaran.
“Tuh, kan. Males ah.” Nining masih bergeming.

\“Ya sudah, bulan depan ngga usah pake uang saku. Deal?”
Aaaaakkk, jangaannnn…! Aku mau beli novel.”

Sang Ibu melangkah pergi. Keputusan sudah diambil. Mau tak mau, Nining beringsut, mengikuti langkah ibunya ke pintu belakang yang menghubungkan pekarangan dengan kebun.
Mendung  bergelayut semakin meredupkan suasana dalam kebun. Gelap. Ya, walaupun tak segelap 
malam. “Eh, pakai sepatu. Ada di sepan pintu bagus. “

Terpaksa, NIning berbalik arah menuju dapur, tanpa suara, ia mengganti alas kaki dengan sepatu. Lalu kembali menapaki jejak ibunya yang sudah entahd is ebelah mana.
Kebun itu tak begitu luas. Lebarnya hanya sekitar 10 m dan panjang mulai depan sampai pinggur sungai jauh di belakag, sekitar lim ap uagama luh NIning bergeig.

“Sekarang jadwalnya mantu salak. Nining tampak pucat. “Kamad disini kuwalahan misa l…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...