Senin, 08 Januari 2018

Surat Cinta Untuk PJ


Dear PiJe Kelas Fiksi ODOP baik hati, ramah tamah dan tidak sombong…. Anggaplah ini surat cinta dari siswa paling bandel di kelas kalian. Duh, rasanya dag dig dug nih. Apa karena judulnya surat cinta? Ah, cinta memang magis.


Baik, inilah isi surat cintaku untuk kalian. Semua berawal dari satu hal bernama : alasan.

Kehadiranku di kelas fiksi sejujurnya berawal dari sebuah kenekatan. Seperti yang salah satu senior pernah bilang, bahwa aku tidak punya bakat murni sebagai penulis fiksi. Ya, pernyataan itu tentu saja bukan tanpa dasar. Selama ini aku lebih dianggap sibuk mengerjakan makalah, paper ilmiah (meski baru tugas mata kuliah, bukan untuk publikasi), tesis, review jurnal, dan sebagainya. Di blog juga porsi tulisan fiksi mungkin lebih sedikit jika dibanding dengan tulisan non fiksi, ya?

Baik, semua keputusan memang berasal dari alasan.

Meski lebih sering menulis non fiksi, sejujurnya aku juga penikmat fiksi. Sejak kecil mata dan otakku lebih mudah tertarik pada teks cerita atau puisi dibanding dengan berita. Bahkan seingatku waktu kelas lima SD, ayah perlu mengalokasikan waktu khusus untuk mengajariku membaca berita dengan teknik skimming. Karena saat itu, aku butuh beberapa kali membaca baru memahami isi artikel dari koran atau majalah yang kubaca. Berbeda dengan cerpen atau sejenisnya, sekali baca isinya sudah nempel di kepala.

Hanya karena kewajiban dewasa inilah yang menuntutku lebih banyak membaca karya non fiksi, sehingga berdampak pada tulisan-tulisan yang kadang kubagikan. Anggaplah itu sebagai bagian dari kewajiban menyampaikan amanah pengetahuan.

Namun rasanya, ada sebagian jiwa yang hilang akibat jauh dari karya sastra. Kalian boleh percaya atau tidak, keindahan puisi dan untaian kata sesungguhnya memilliki unsur magis yang bisa mmperindah atau bahkan merusak estetika suatu jiwa. Mungkin aku adalah salah satunya. Tanpa sastra, aku merasa kehilangan salah satu unsur keindahan dalam hidup.

Rasa kehilangan unsur keindahan itu semakin terasa ketika teringat bahwa aku memiliki satu naskah novel yang belum terbit. Satu naskah mentah yang baru jadi, belum bisa dikatakan sempurna sama sekali. Sedangkan di kelas nulis buku-ODOP, naskah itu pula yang sudah kuajukan untuk diselesaikan di kelas nulis buku-ODOP, berharap kemudian segera layak terbit dan beredar. Tapi bagaimana mungkin aku bisa menyelesaikan naskah itu sementara ada unsur yang hilang dari jiwa penyusunnya?

Karena itulah, aku memaksakan diri untuk masuk kelas fiksi. Berharap jiwa imajinasiku segera utuh kembali.

Setelah masuk, ujian berikutnya datang. Entah do’a yang mana dan keberapa, nasib membawaku pada kesibukan mengikuti kelas upgreading TOEFL di Pare. Kelas non fiksi ini dimulai setiap hari senin-jum’at (faktanya sabtu juga masuk, sih), jam 5.30 pagi dan selesai jam 16.00 sore. Bayangkan saja, setiap hari! Mulai 11 Desember kemarin hingga 9 Januari besok. Wow! Belum termasuk tugas yang seolah jadi menu wajib setiap harinya. Rasanya benar-benar luar biasa. Rutinitas itu harus ditambah dengan jarak tempuh dari rumah tinggal ke kelas, sekitar 30 menit naik motor kecepatan 50-60 km/jam.

Capek? Pengennya sih engga.

Tapi buktinya? Menjelang sesi satu bulan kelas ini, aku tumbang di H-3 dan -4 sebelum kelas berakhir. Ada saatnya daya tahan tubuh tak bisa ditawar, gengs. Masih untung sih, aku tidak harus menginap di klinik atau Rumah sakit untuk semua nikmat sakit ini.

Sementara kelas fiksi di ODOP, harus terabaikan begitu saja. Tugas harian untuk blog walking saja sering tak bisa kuselesaikan. Maaf, ya?

Padahal para PJ sudah berusaha keras membuat setting kelas yang nyaman dan available untuk dilaksanakan dengan berbagai kesibukan. Tapi ternyata, masih ada saja yang bandelnya ngga ketulungan. *Red: aku.

Sementara siswa yang lain juga sudah berusaha keras memenuhi setiap tantangan, menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, sementara aku? Terkesan “seenaknya” saja absen di kelas.

Mungkin ribuan bahkan jutaan maaf tak akan sanggup menggantikan rasa bersalah yang terlanjur menjalar dan tumbuh subur dalam setiap kehadiraanku di kelas ini. Maka saat diminta menulis saran dan kritik untuk keberlangsungan kelas selanjutnya, aku gelagapan.

Apa yang harus kutulis? Yang butuh saran dan kritik sesungguhnya bukan kelas ini, tapi aku, dan mungkin “murid bandel” yang lain, agar lebih tertib mengikuti kelas.

Tapi sejujurnya, kalau saja aku bisa fokus mengikuti kelas dari awal sampai akhir, rasanya ingin sekali interaksi lebih intens dengan para pakar, penulis fiksi. Ya, bukan sharing biasa sekedar memberi materi dan feedback, tapi lebih dari itu, sharing memancing ide dan jiwa imajinasi yang bisa membuat para siswa agar lebih tak terkendali dalam berkarya.

Rasanya ingin sekaali tak kehabisan kata untuk menumpahkan rasa yang memenuhi jiwa. Entah itu akhirnya berupa cerpen dan sejenisnya, atau puisi dan teman-temannya. Aku ingin tak bisa berhenti menulis lagi.

(Sudah lebih dari 400 kata, kan? Oke, cukup sekian dan terima angpau)


#OneDayOnePost
#Tantangan9
#KelasFiksi



13 komentar:

  1. Siip, terimakasih masukannya Dik. Ini untuk kelas fiksi ke depan ya. Maafkan kalian jadi bahan percobaan. Hiks hiks

    BalasHapus
  2. Ini ya si anak bandel... hm...

    BalasHapus
  3. Hahaha jangan berhenti dek kifa, ayo semangat

    BalasHapus
  4. Ayo ganbate!!! semoga selalu sehat ya Kak :)

    BalasHapus
  5. Di eman" tenaganya mba kifa, hamasah nggh ✊✊

    BalasHapus
  6. Sukses utk semua urusan kaka Kifa.
    Hayuklah kita mancing ide. Dari kesibukan kak Kifa itu banyak lho yg bisa dikembangin jadi tulisan. Cemungud! 😘

    BalasHapus
  7. Semangaaaats mbak. Semoga lelahnya lillah 😘

    BalasHapus
  8. Semangat kak kifa, kutau kamu bisaaaπŸ’–πŸ’–

    BalasHapus
  9. Semangat dek (sejujurnya itu motivasi buat saya juga, yg Krn kesibukan d kantor banyak tugas yg terlalaikan) tp sy syg banget dgn kelas ini sudah huhuhu

    BalasHapus
  10. Kak kifa, aku baru tau kl harus 400 kata ya. Btw semangat kak.

    BalasHapus

Masa Depan RCO

Reading Challenge ODOP atau disingkat RCO saat ini sudah masuk angkatan ke-3. Aku sudah pernah ikut ketiganya. RCO pertama, zaman admin ...