Senin, 19 Februari 2018

Keajaiban Demi Keajaiban


Stasiun Mojokerto, Ahad pagi tanggal 18 Februari pukul 08.40.


Pernahkah kau berharap keajaiban?

Aku sering.

Seperti pagi ini. Rencana pergi naik kereta harus terhambat dengan sejumlah kesibukan dan rasa lelah.

Jadwal kereta dari Stasiun Mojokerto jam 08.50. Sementara jarak dari rumah ke stasiun menurut google map adalah 58 menit. Sekalipun aku belum pernah naik kereta dari stasiun mojokerto. Perjalanan ini akan menuju kota tetangga yang baru pertama kali akan benar-benar kukunjungi: Sidoarjo.

Tiket sudah dibeli seorang teman yang sudah seperti saudara sejak masa kuliah, Ilmi Namanya. Kemarin kutittip karena tak sempat berangkat sendiri ke stasiun dan kebetulan kami akan melalui perjalanan yang sama. Sedangkan semalam Om sekeluarga harus berangkat ke Sragen mengantar adik sepupu tes masuk sekolah. Maka pagi ini, rumah harus sudah beres sebelum kutinggal. Minimal sarapan siap dan perabotan rapi, lantai bersih.

Apalah dayaku yang semalam tidur jam 22.30 (atau lebih) kemudian dibangunkan sekitar jam 23.30 untuk mengantar Om sekeluarga berangkat. Jam 00.17 mereka berangkat, aku mengunci pintu dan melanjutkan tugas yang belum selesai.

Sekitar jam 01.30, mata menuntut untuk lelap kembali. Kuturuti hingga adzan shubuh memanggil. Alhamdulillah, masih diberi semangat untuk melangkah ke mushalla. Meski setelah itu kunyalakan murrotal dan al ma'tsurat... Kesadaranku melayang bersama dinginnya pagi yang menyapa lembut melalui jendela.

Rencana, aku berangkat jam 06.00 dari rumah, agar ada waktu luang untuk mencari jalan ke stasiun. Perkiraan kalau ada macet atau nyasar, naik kereta juga ngga terlambat.

Nyatanya?

Jam 05.30 Baru bisa bangun, setrika baju, mandi, menyiapkan sarapan untuk lima orang (aku plus empat karyawan), lalu siap-siap berangkat. Sudah jam 06.30!

Baik..cerita harus dipersingkat. Perkiraan waktu menuju stasiun menurut google map adalah 58 menit. Belum ganti baju, pakai kerudung. Tahu kan, biasanya cewek berapa lama?

Huhuhu... Aku sudah siap plus selesai sarapan lima belas menit kemudian. Alhamdulillah... Karyawan bisa diajak kerjasama membereskan dapur yang kubuat berantakan selama “berkarya” tadi.

Semua beres... Berangkat. Perkiraan pas sampai stasiun, pas jadwal kereta berangkat.

Bismillah... Kupacu kuda besi secepat kemampuan.

Jam 07.31 sudah sampai di stasiun dengan selamat. Alhamdulillah... Ssstt... Memang, jarum di speedometer beberapa kali hampir menyentuh angka 100 selama 45 menit terakhir. Paling sering menyentuh angka 60-80 kok. Aman, kan? Hehe...

Tenang, sepanjang jalan aku berserah pada Allah. Bismillahi tawakkaltu 'alallah...

Keajaiban kurasakan pagi ini. Memangkas waktu 13 menit dari perkiraan (sudah termasuk manasi mesin motor, mampir SPBU karena indicator bensin sudah menunjuk warna merah, dan berhadapan dengan beberapa titik macet.

Kemudian sampai saat ini, ilmi belum tampak di stasiun. Pengumuman kereta Jenggala juga belum ada, sepertinya aku harus berharap pada keajaiban berikutnya. Kalau terpaksa terlambat atau harus ditinggal kereta karena tiket masih dibawa ilmi, mungkin nanti akhirnya harus berangkat pakai motor https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v9/f7f/1/16/1f60a.png^_^

Gawai yang sedang kupakai menulis langsung di status FB ini, rupanya membuat koneksi aplikasi yang lain tersendat. Aku tidak sadar sampai kuselesaikan posting status, lalu kututup aplikasi Facebook, ternyata Ilmi sudah sampai di stasiun. Sekarang sudah jam 8.00, kenapa belum ada pengumuman kereta Jenggala akan berangkat? Aku penasaran, kubuka aplikasi WA, ada 7 panggilan terlewat, puluhan chat, dan belum sempat kubaca semuanya, Ilmi memanggil. Kuangkat dan kudengar suara paniknya. Aduh, maaf ya… aku tak sengaja.

Ternyata dia sudah masuk kereta, sementara aku belum bisa check in tanpa tiket. Alhamdulillah, di saat seperti ini, terasa sekali betapa Allah sangat menyayangi kami. Tidak sulit bagi Ilmu untuk menemukanku diantara kerumunan (padahal sebelumnya dia tidak berhasil menemukanku di ruang tunggu sepan loket). Tiket diulurkan, aku bisa masuk. Sampai tempat duduk sudah jam 8.05. kenapa kereta belum juga bergerak?

“Masih nunggu Kereta Mutiara Selatan lewat,” Begitu kabar yang kudengar. Ah, ya. Kereta jarak dekat, ekonomi, memang harus “mengalah” dengan kereta jarak jauh, apalagi bisnis dan eksekutif. Tapi tak mengapa, adakalanya keterlambatan jadwal kereta adalah anugerah, bagi kami saat ini adalah salah satunya.

Kami menghadiri acara Milad FLP di Aula Kemenag Kabupaten Sidoarjo. Menurut jadwal, acara dimulai jam 08.00, tapi tujuan kami bukanlah mengikuti acara sejak awal, selain karena tidak bisa (setelah melihat jadwal), juga karena yang paling utama adalah kami bisa berjumpa bunda Mabruroh, salah satu bunda kece yang kami kenal lewat komunitas ODOP, dan dua pemateri keren: Bunda Sinta Yudisia dan Om Arul Chandrana. Bunda Sinta adalah psikolog sekaligus penulis yang profesi utamanya adalah seorang istri sekaligus ibu. Sudah ada 60 judul buku yang ditulis dan diterbitkannya. Yang paling kukenal karena banyak teman bilang novel karya beliau recommended adalah: REEM. Aku sendiri belum baca, hehe. Sedangkan Om Arul, pernah sekali mengisi kelas di group besar ODOP. Selama materi itu, yang kuingat adalah beliau kocak plus mutitalenta. Jadilah niat perjalanan ini adalah karena ingin berjumpa mereka. Ya, siapa tahu ketularan keren kan?

Alhamdulillah, kami sampai di lokasi tepat sebelum Bunda Sinta sebagai pemateri pertama mengisi acara. Kami tidak ketinggalam materi Motivasi Menulis di Era Digital. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah… keajaiban demi keajaiban mewarnai pagi ini. Sampai saat kami harus kembali sore harinya, tidak ada hujan yang turun. Aku sampai rumah dengan selamat tepat saat adzan maghrib berkumandang.

Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukaddzzibaan….

Tidak ada yang tidak mungkin ketika Allah berkehendak. Jangan pernah lupa bahwa Allah berkehendak sesuai dengan prasangka hambaNya. Maka selalu berprasangka baik itu penting. Sekecil apapun hal yang kita inginkan, cukup sampaikan pada Allah. Lalu yakin, dan lakukan usaha terbaik. Insya Allah, hanya hal-hal terbaik yang terjadi kemudian pada kita.


 #OneDayOnePost

10 komentar:

  1. Uwooow cerita yang epik banget mbaak! Jadi terharu (aku disebut reek) sekaligus kagum sm perjuangannya menuntut ilmu. Semoga selalu istikomah mbak:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiin.... Perlu, sangat perlu menjaga diri dalam pusaran pergaulan orang-orang hebat ketika ingin melangkah beriring bersama mereka. Mohon do'a, semoga langkah ini tak surut ^_^

      Hapus
  2. Dih pengalamannya keren. Kece badai.

    BalasHapus
  3. Duh menginspirasi sekali pengalamannya mbak Kifa ini. Suka banget

    BalasHapus

  4. Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukaddzzibaan….

    Prcaya banget dengan kalimat Alloh ini

    BalasHapus
  5. Keren mbak. Tp nggak biasanya mbak sakifah typo dan beberapa kata yang kekurangan huruf.
    Satu lagi Font.y kok berubah ya?😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh makasih udah dikoreksi dengan teliti... Hrhe, maap itu posting tanpa editing. Jadi ya rada berantakan deh..

      Hapus
    2. Eh makasih udah dikoreksi dengan teliti... Hrhe, maap itu posting tanpa editing. Jadi ya rada berantakan deh..

      Hapus

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...