Rabu, 07 Februari 2018

Membaca, Pengantar Tidur?


Setelah melakukan aktivitas seharian, mulai dari pagi hingga malam menjelang, rasanya tubuh sangat butuh istirahat. Tapi kewajiban belum semua ditunaikan. Ya, membaca adalah salah satu kewajiban harian. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku sudah meniatkan diri untuk rajin membaca. Juga menulis, sebenarnya. Hanya saja yang kedua ini jujur masih lebih berat direalisasikan.


Sejak harus mengurus toko full time dari waktu buka pagi hingga saat tutup malam hari, rasanya tenaga harus tercurah semua di sana. Saat pagi, setelah membereskan urusan rumah, kami membuka toko tepat ketika anak sekolah belum bel masuk. Biasanya ada saja alat sekolah atau jajan yang mereka cari. Setelah itu, kami membersihkan lantai dan mengecek display. Siang sedikit, sudah diserbu sales untuk membayar tagihan dan order. Ah, sebenarnya cerita ini bisa jadi lebih panjang jika  kau ingin tahu “ulah” para sales itu.

Tapi tulisan ini kubuat untuk tujuan yang lain: kesan membaca. Ternyata, membiasakan membaca ditengah kesibukan itu sulit. Sungguh! Apalagi membiasakan menulis? Ah! Berat. Biar Dilan saja. #Loh.

Biasanya, aku berusaha memanfaatkan menit demi menit yang hadir memberi kesempatan. Membawa buku atau ebook ke toko, membaca saat tidak ada pembeli atau sales yang datang menagih, atau sengaja menepi dari keramaian ketika kasir sudah ada yang pegang dan tidak ada pembeli yang minta dilayani.

Baik, di tingkat 4 group tantangan membaca, kami harus menyelesaikan 3 jenis bacaan: buku berbahasa selain Indonesia, buku puisi dan satu lagi buku sejarah. Ah, untung hanya dua yang wajib diselesaikan: buku berbahasa selain Indonesia dan satu tema pilihan lain, terserah mau sejarah atau puisi. Aku memilih Hujan Bulan Juni karya eyang SDD untuk buku puisi, jurnal parenting berjudul Holistic Parenting untuk buku asing, dan Khadijah: Ketika Rahasia Mim Tersingkap. Sebenarnya buku terakhir itu semi fiksi, tapi cukup bisa merepresentasikan kehidupan Ibu umat Islam yang terukir indah dalam sejarah peradaban.

Mau tahu gimana rasanya membaca buku selain Bahasa Indonesia? Jujur, aku sudah lama tidak membuka jurnal internasional. Niat awalnya membaca jurnal ekonomi Islam, selain untuk update pengetahuan, juga untuk melancarkan membaca teks English. Eh, ternyata bacaan yang kupilih harus menjadi pengantar tidur yang sangat efektif! Entah karena lelah atau memang teks English sangat lihai membuat mata cepat terpejam, membawa duniaku beralih ke mimpi. Akhirnya, saat pagi menjelang, kuputuskan untuk membaca jurnal dengan bidang yang berbeda, tentang parenting yag dikirim oleh Nisaa, salah satu anggota RCO. Kebetulan tema yang diangkat sama dengan essai yang harus kubuat. Jadi, sekalian nambah referensi dan sumber bacaan.

Kesan paling menyenangkan ada pada buku yang terakhir: novel tentang ibunda umat Islam, Khadijah. Membacanya seperti sedang mengarungi taman sebuah pribadi. Elok nan menawan hati, hingga lupa waktu sudah menjelang dini hari. Stigma bahwa membaca selalu efektif mengantar tidur, ternyata tidak terbukti. Tidak semua buku bisa mengantar tidur, bahkan ada diantara mereka yang menahan mata dan mengusir kantuk jauh-jauh hingga tubuh dan mata lupa akan lelah yang mendera. Namun sayang, buku ini belum selesi juga kubaca hingga saat ini. Beberapa hari terakhir, selain karena tamu bulanan yang datang menghampiri, kesibukan di toko lumayan menyita energi (lagi). Jadi ketika sampai rumah, niat membaca itu menguap begitu saja bersama mata yang tak lagi kuasa menatap dunia.

Sampai hari terakhir RCO Tingkat 4, aku masih ingin menyelesaikan novel ini sedikit lagi. Tulisan ini kubuat diantara kebimbangan untuk berangkat cek laborat atas perintah dokter, atau kembali ke toko karena kondisi tubuh yang drop tadi pagi sudah lebih baik saat ini. Ah, mungkin aku harus ke toko sebelum memutuskan untuk benar-benar mengunjungi laboratorium itu nanti. Dan semoga, hasilnya nanti tidak menunjukkan sesuatu yang mengkhawatirkan. Atau aku periksa menunggu serangan berikutnya datang, supaya hasil lebih akurat ya?

Lihat nanti, deh.

#ODOP
#RCO

#Tingkat4

1 komentar:

  1. Wah ... Keren nih konsisten dengan RCO-nya. Sukses ya mbak Saki. Semangat ^^

    BalasHapus

Kaos ODOP

Hasil jadi kaos Kira-kira tiga atau empat bulan pasca Kopdar Akbar ODOP pertama, ada wacana ingin membuat kaos ODOP. Koordinatornya...