Selasa, 13 Maret 2018

Mengasah Intuisi Itu Penting




“Ki, kamu bisa baca karakter seseorang?” Tanya kakak, usai kami diskusi sedikit panjang malam itu. Sudahlah, jangan berprasangka. Sekedar diskusi untuk meringankan beban pikiran, tak lebih.

“Aku sering pakai intuisi,” jawabku tak lama kemudian. “Biasanya kuat pada pertemuan pertama.” Lanjutku.

Memang, sering kali pada pertemuan pertama, aku menyerap begitu banyak energi lawan bicara, beberapa diantaranya akan menjelaskan sosok yang ada di hadapanku. Aku bisa merasakan kejanggalan jika seseorang yang kuhadapi memiliki potensi tidak baik, rasa tidak nyaman berada di dekatnya pasti langsung menjalar begitu saja. Terutama jika “potensi tidak baik” itu melanggar prinsip dan akan sulit kumaafkan.

Awalnya aku mencoba tak peduli. Tapi pengalaman beberapa kali membuatku berpikir ulang, “Apa ini cuma kebetulan? Atau memang pertanda yang harus kuperhatikan?”

Pernah saat menempuh Pendidikan berasrama, aku sekamar dengan seorang kawan. Awal berkenalan dengannya, ada rasa tidak nyaman yang menyelinap. Tapi berusaha kuabaikan. Perkenalan kami berjalan normal, kehidupan seasrama berjalan baik-baik saja. Meski rasa janggal itu kian nyata terasa, aku berusaha menepisnya karena secara kasat mata, aku melihat dia sebagai sosok yang baik, alim, berasal dari keluarga baik-baik. Sejauh yang kukenal, dia menjaga diri dari pergaulan dengan kaum lelaki. Bahkan ketika ada kawan kampus yang mendekatinya dan dia tidak berkenan, dia memintaku untuk melakukan penolakan secara baik-baik. Ah, maafkan aku.. jika seseorang itu membaca tulisanku ini. (Maaf, menggiringmu dalam situasi yang benar), karena pada akhirnya, aku bersyukur telah berani membantunya menolak, meski hanya lewat surat.

Apa yang terjadi? Akan ada saat yang tepat menunjukkan pribadi asli seseorang, aku percaya itu. Entah “saat yang tepat” itu terjadi di awal perkenalan, atau setelah berlama-lama.

Di akhir masa studi, aku mendapati gadis itu tak perawan lagi. Tak perlu kuceritakan detil proses mengetahui kebenaran itu. Yang pasti, aku tidak mengada-ada meski awalnya sempat tak percaya dan ingin benar-benar tak percaya. Sayang, itu fakta. Parahnya lagi, tak lama kemudian dia mengakui semuanya, dengan kesan yang kutangkap: tidak ada penyesalan telah melalui semua itu.

Rasa hati yang teriris, kepercayaan yang hancur berkeping-keping, benci yang teramat sangat, langsung menyeruak begitu saja. Lebih perih dari mengetahui seorang sahabat yang sejak awal sudah tidak karuan pribadinya, ketimbang mengetahui apa yang kuanggap sebagai kebenaran selama ini ternyata fatamorgana semata.

Lagi, pernah aku berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman ketika kenal dengan seseorang. Semua berjalan wajar, aku tidak terlalu dekat, meski tidak juga terlalu jauh menjaga jarak. Hingga suatu saat, dia menawarkan bantuan, kuterima begitu saja. Kujelaskan situasi yang kuhadapi baik-baik, termasuk jadwal beberapa hal yang harus sudah harus kulaksanakan karena ikatan. Singkatnya, pertolongan yang dia tawarkan bentrok jadwal dengan kegiatan yang sudah kujelaskan sebelumnya. Sampai selesai acara, aku belum sadar apa yang terjadi sebenarnya karena tak ada kabar. 

Akhirnya, kuberanikan diri bertanya atas kelanjutan janjinya untuk menolong. Dia mengirim SS percakapan dengan pihak lain yang juga membantuku untuk mendapatkan sebuah posisi. Dari percakapan itulah akhirnya aku paham, namaku sudah menjadi semacam taruhan. Akibat aku lebih memilih agenda lain (yang sudah kujelaskan sebelumnya), posisi yang dijanjikan untukku, harus kurelakan pergi tanpa emosi. Ya ,untuk apa lagi emosi? Percuma. Meski sulit ingatanku menghapus detil percakapan mereka yang menjadikan namaku dalam posisi paling salah, aku telah memaafkan. Juga untuk sahabat yang rela kehilangan keperawanan yang terbungkus pesona menawan seorang muslimah, aku tak ingin menyakiti diri dengan menyesali perkenalan.

Setelah itu, aku selalu berhati-hati dan menajamkan intuisi. Jika ada sesuatu yang janggal, segera kuhindari kedekatan atau urusan penting dengan sosok tersebut.

Di sisi lain, intuisiku bisa mengabarkan kebaikan sebuah pribadi. Pernah ada perkenalan lewat dunia maya yang berujung pada pertemuan. Sejak awal jelas, dia menganggapku sahabat, begitu pula sebaliknya. Usai sebuah acara, kubiarkan dia menjemput dan kami pergi makan. Saat itu dia bertanya, “Kenapa kamu bisa percaya aku? Ngga takut, kuculik atau kuapakan misalnya? Kita kan baru ketemu?”

Aku hanya tersenyum, “Kata hatiku, kamu baik, dan aku percaya itu. Kalaupun ada sesuatu, aku tahu harus bagaimana. Kan aku pernah belajar silat.” Jawabku enteng. Dia terkekeh. Sampai sekarang, dia menjadi teman yang baik, meski taka da lagi pertemuan setelah itu.

Menajamkan intuisi, kurasa penting dan harus kulakukan dengan banyak melatih diri sendiri. mengenali orang lain, bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tapi juga berguna untuk melindungi orang-orang yang kita sayangi. Bukankah semakin diasah, naluri kita semakin waspada membentuk tameng diri?

Intuisi berguna tidak hanya untuk mengenali pribadi, tapi juga untuk menajamkan naluri bisnis, menghindari kerugian atau bahaya masa depan, sehingga kita bisa antisipasi apa yang akan terjadi selanjutnya.


#ODOP 



1 komentar:

  1. Stelah mba kifa jabarkan, kok persis critanya ya. Crita ttg sahabat, bisnis, dan pertemuan itu...

    BalasHapus

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...