Minggu, 15 April 2018

Ketika Hati Harus Merelakan


Apakah kau pernah merasa ditinggalkan?
Pacar yang selingkuh, mungkin?
Atau gebetan yang memilih orang lain, barangkali?
Atau mencintai tapi tak bisa memiliki?
Sedih, pasti ya?

Sini, dekat aku. Kupeluk engkau dalam hangatnya kata-kata. Semoga cukup menyembuhkan lara, mengobati luka. Percayalah, setiap orang akan menemui takdir terbaiknya.

Jika apa yang engkau yakini baik, benar, bahkan engkau memilihnya untuk mengisi hati yang sedang sendiri, engkau tak boleh lupa bahwa dia adalah jiwa yang dimiliki oleh Tuhannya. Apa yang terjadi ketika Tuhan tidak mengizinkanmu terus bersamanya? Ketika ia harus pergi, mungkin bukan untuk selamanya. Tapi cukuplah ia pergi untuk bersama yang lain, itu menciptakan luka.

Dalam diam yang meraja, aku tahu perih itu seperti apa. Tapi sungguh, kita tak pernah benar-benar memiliki apapun di dunia ini. Jangankan orang lain, jiwa yang sejatinya melekat pada diri, bisa sewaktu-waktu diambilNya, bukan? Lalu untuk apa kita menyimpan lara terlalu lama?

Tentu saja, kita boleh merasa bersedih ketika ditinggalkan, atau harus merelakan hati yang terlanjur memendam harapan. Tapi sekali lagi, jangan pernah lupa bahwa setiap insan bisa menjalani takdir terbaiknya. Kita hanya perlu merelakan, menerima setiap ketetapan Tuhan.

Di sisi yang lain, kita bisa berdoa dan berusaha selalu melakukan yang terbaik. Kita boleh menanam sebanyak mungkin harapan, kita berhak melangitkan untaian doa berkepanjangan, bahkan berusaha merealisasikan setiap rencana dalam langkah-langkah yang penuh perhitungan.

Namun kita tak boleh lupa, bahwa manusia memiliki batas rencana dan usaha, sedangkan Tuhan adalah penguasa semesta. Dialah yang paling berhak menentukan hasil akhirnya. Dialah yang paling berkuasa menetapkan setiap kejadian, memberi apa yang dibutuhkan sesuai rencanaNya, bukan rencana kita. Syukur-syukur kalau rencana kita sesuai dengan rencanaNya. Tapi siapa bisa memastikan?

Ketika seseorang memilih untuk meninggalkan kita, pasti bukan tanpa alasan. Orang itu bisa pergi karena memang bukan kita yang dipilihnya, atau karena terpaksa, atau memang harus pergi meskipun memiliki perasaan yang sama. Satu hal yang pasti, memang harus begitu perjalanan yang harus dilalui. Memang harus luka itu yang harus tersisa di hati.

Lalu jika kita memilih untuk larut dalam duka, apa manfaatnya? Sudahlah, sedih boleh, tapi sebentar saja. Jangan terlalu lama membiarkan diri tenggelam dalam luka dunia. Lihatlah keluar, bukankah dunia sesungguhnya tak selebar daun kelor?

Temuilah teman, sahabat, orang-orang yang sedang bahagia. Semoga kebahagian itu bisa menular pada hati yang sedang terluka. Lalu membantunya untuk sembuh, meski mungkin kenyataan tak lagi sama.

Alaa bidzikrillaahi tathmainnul quluub
Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.

Perbanyak dzikir, serahkan semua urusan padaNya. Percaya saja, tak satupun kejadian yang diizinkanNya menjadi keburukan bagi kita, selama kita selalu menjaga ikatan dengan syariat dan risalahNya.

#OneDayOnePost
#Nonfiksi

2 komentar:

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...