Jumat, 18 Mei 2018

Buka Bersama Siapa Ramadhan Tahun Ini?


Ramadhan selalu menjadi bulan istimewa. Disambut dengan suka cita dan penuh warna. Meskipun tahun ini ada warna duka sebelum kedatangannya, semoga tetap penuh cinta hingga ujungnya.
Ramadhan, bulan mulia yang di dalamnya berpendar jutaan cahaya. Mulai dari sahur yang ramai pemuda membangunkan warga, jalan pagi yang penuh canda, hingga buka bersama yang selalu menjadi kesempatan istmewa bagi siapa saja. Asal tidak melupakan tarawih dan tadarrus setelahnya, semoga acara buka bersama membawa berkah bagi kita semua.

Acara buka bersama saat Ramadhan biasa menjadi kesempatan untuk reuni, kopdar, atau sekedar nongkrong bareng teman-teman akrab. Ada dampak positif sekaligus negative dari acara semacam ini. Disatu sisi, acara kumpul-kumpul termasuk buka bersama adalah ajang silaturrahim, merekatkan ukhuwah, sekaligus ladang pahala, khusus bagi yang traktir. Hehe, positif sekali kan?

Namun tak jarang, acara buka bersama dilakukan bersama lawan jenis bukan mahrom, bukan pula pasangan sah. Pergi berduaan, ngabuburit menikmati senja sambil menunggu waktu berbuka. Berboncengan, bercanda, seolah dunia milik berdua. (Lah, orang lagi cinta wajar kan?) Ehm, wajar ya?

Versi pemuda dan pemudi zaman now, buka bersama model seperti ini mungkin dianggap wajar. Pacaran saja dianggap wajar, apalagi “Cuma” buka bersama? Hmm, sayang sekali ya? Pemuda dan pemudi kita sudah terdoktrin kewajaran yang jauh menyimpang dari kemurnian ajaran agama. Zaman kakek nenek kita dulu, jangankan pergi berdua, saling melirik dan menyapa antara lawan jenis saja sudah harus hati-hati. Apalagi berbicara panjang lebar tanpa perantara? Bisa seketika dibawa ke KUA. Itu kan dulu? Iya, zaman ketika adab, kontrol sosial dan agama masih berjalan beriringan dalam hal yang sama. Sekarang, tidak hanya persepsi para pemuda dan pemudi muslim yang “teracuni” pemahaman seperti ini. Bahkan banyak orang tua yang khawatir ketika menginjak remaja anak-anaknya belum punya -gandengan-, pacar maksudnya. Duh!

Padahal, tidak sedikit kasus hamil di luar nikah, pacaran yang putus di tengah jalan padahal sudah hilang keperawanan, atau minimal, remaja yang masih “bau kencur” karena belum berpikir matang untuk hubungan pernikahan itu jika bermain-main dengan pacaran, berbahaya. Lalu, dimanakah letak kebanggaan para orang tua yang membiarkan anak-anaknya memilih pacarana ketimbang fokus belajar atau melakukan kegiatan positif lainnya? Apalagi sampai dibawa ke acara buka bersama, yang seharusnya menjadi momentum ibadah dan waktu mustajabnya do’a, malah dihiasi dengan maksiat kepada pemilik semesta.

Sayang sekali ya?

Ayolah, kita ubah kebiasaan buruk seperti in, dimulai dari diri sendiri. mumpung Ramadhan, mumpung training perbaikin diri membuka pendaftaran seluas-luasnya. Pahala disediakan melimpah, syetan dibelenggu di neraka. Kalau kita masih tergoda nafsu dunia, itu karena kita sendiri yang menjelma sebagai setan. #eh, ganti peran ya?


Boleh, kalau mau buka bersama. Tidak satupun dalil yang melarang perkara muamalah seperti ini. Dasarnya muamalah kan, kalau ngga ada dalil yang melarang berarti boleh. Ya kan? Nah, tapi ingat, buka bersama-lah yang membawa berkah. Lakukan dengan orang-orang yang memang perlu ditemui, jangan campuri dengan kegiatan maksiat yang mengotori hati. Terus, kalau sudah selesai acara buka bersama, tarawih tetap jadikan agenda. Jangan sampai buka bersama menyita kesempatan berburu pahala. Apalagi sampai terlena dengan kegiatan lain yang unfaedah begitu, ya?

#RWC_2
#RamadhanWritingChallenge
#ODOP
#Ramadhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."