Jumat, 04 Mei 2018

Mavi Marmara, Palestina dan Dunia



Membaca buku berjudul “Mavi Marmara Menembus Gaza” yang ditulis oleh H.Ferry Nur, S.Si, seorang relawan dalam misi kemanusiaan pembawa bantuan untuk rakyat Gaza pada tahun 2010, yang saat itu juga menjabat sebagai Ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA), rasanya seperti ikut berpetualang dalam ketegangan yang nyata, mengikuti langkah demi langkah para relawan menembus Gaza di tengah ketidakmungkinan saat itu.
Misi kemanusiaan Mavi Marmara adalah membawa bantuan dari seluruh dunia untuk rakyat Gaza yang telah diblokade oleh Israel sejak tiga tahun sebelumnya. Bantuan itu adalah simbol perhatian masyarakat dunia yang peduli pada penderitaan rakyat Gaza selama blokade. Sekaligus menunjukkan kepada Israel bahwa masih ada orang-orang yang mengecam tindakan blokade mereka yang menahan masuknya bahan makanan, senjata, dan bantuan dari luar untuk Gaza. Masih ada orang-orang yang tidak setuju dengan perilaku kejam Israel menjajah Palestina.

Detik demi detik keberangkatan, perjalanan, hingga penyerangan yang dilakukan oleh tantara Israel terhadap seisi kapal diabadikan dalam goresan pena buku ini. Sakit, sedih, bercampur marah mengetahui bahwa para relawan ditembaki secara brutal oleh para tantara Israel tanpa alasan yang jelas. Sembilan relawan menjadi korban dan meninggal di tempat saat penyerangan terjadi. Dua puluh tiga lainnya mengalami luka berat, tiga puluh relawan lain mengalami luka ringan. Sisanya? Dibawa ke penjara oleh para tentara, disiksa ketika tidak mau menuruti perintah mereka, dan dirampas harta miliknya tanpa kompensasi apapun. Astaghfirullah, padahal tak seorangpun bersenjata saat Israel menyerang. Semua orang tahu, menyaksikan, bahkan media internasional mengawal keberangkatan Mavi Marmara. Semua orang tahu seluruh relawan hanya membawa bantuan, tak seorangpun bersenjata.

Buku ini adalah tinta abadi sejarah, yang peristiwa demi peristiwa terjadi masih sangat dekat dengan kehidupan kita sekarang. Saking dekatnya, seolah masih sangat mungkin peristiwa perampokan terhadap Mavi Marmara terulang lagi. Ya, selama dunia diam saja menghadapi Israel dan tetap bersikap seolah tak peduli terhadap penjajahan mereka di bumi Palestina, maka masih sangat mungkin misi kemanusiaan lain harus dikirim. Maha suci Allah, yang menjaga kekuatan hati rakyat Palestina menghadapi kekejaman zionis tapa seorangpun bisa mencegahnya.

Kisah Mavi Marmara menembus Gaza sangat heroik dan menegangkan. Terutama saat Mavi Marmara diserang oleh tentara Israel di perairan internasional sehingga menjatuhkan korban jiwa, termasuk kisah sebagian relawan yang dikirim ke penjara tanpa alasan. Dibanding dengan buku sejarah yang saya pelajari zaman sekolah, buku ini jauh lebih detail dan tidak membuat ngantuk, meski lelah karena membacanya di sela kesibukan.

Sejujurnya, saya belum pernah membaca buku yang membahas detail tentang sejarah palestina. Hanya ada artikel majalah, potongan-potongan berita baik online maupun dari media cetak, atau ceramah para ustadz dan ulama di berbagai forum tentang Palestina dan segala peristiwa dan begitu banyak symbol agama yang harus dilindunginya. Potongan cerita, ceramah, sub bab buku sejarah, atau teks artikel dalam forum berita tersebut selama ini belum berhasil membangun utuh imajinasi tentang apa yang terjadi di sana. Tapi buku ini, mampu menghadirkan serupa rekaman film dokumentar peristiwa demi peristiwa mengharukan sekaligud membuat perih hati, menyaksikan adegan demi adegan hingga misi selesai.

#TugasRCO1Level3
#RCO
#NonFiksi

#OneDayOnePost

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...