Kamis, 23 Agustus 2018

Rumah Impian




Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau siapapun yang membutuhkan bantuan.
Ada kamar utama, dan satu kamar untuk setiap anak. Satu kamar lagi untuk tamu. Ruangan lain bisa menyesuaikan sesuai dengan kemampuan. Soal ruang keluarga dan ruang tamu misalnya, bisa dijadikan satu jika keuangan belum memungkinkan untuk memisahkannya. Dapur dan ruang makan, bisa juga diakali supaya mempermudah akses, keduanya selalu perlu terhubung, bukan? Begitu juga dengan kamar mandi dan tempat mencuci, yang penting ada tempat menjemur yang langsung disiram matahari. Setiap ruangan, kalau bisa memiliki jendela yang cukup besar agar sirkulasi udara berjalan dengan baik.

Kupikir, lebih nyaman tinggal di rumah berdinding tinggi. Kalau rumah nenek di Jombang, menurut sejarah dibangun oleh arsitek Belanda, sekarang umurnya lebih dari 100 tahun, memang berdinding tebal dan tinggi. Lebarnya setara dua batu bata besar yang disusun berjajar sepanjang bangunan, luar dan dalam. Tinggi lantai dari tanah sekitar 1 meter, dari lantai itu sampai menyentuh atap, tinggi dinding sekitar 5 meter. Entah seberapa dalam pondasinya, aku tidak pernah menggali atau bertanya kepada siapapun. Rumahku kelak, mungkin tak perlu setinggi itu, sekitar 4 meter tinggi dinding dari lantai, cukuplah. Kalau mau lebih, boleh juga. dinding yang tinggi dapat mendinginkan udara di ruangan, aku suka udara yang sejuk di rumah. Sebisa mungkin sejuk yang alami, tanpa alat buatan yang bisa saja menguras energi listrik.

Rumah sederhana itu tidak perlu berdinding marmer, berlantai kaca, atau berhias lampu gantung yang menawan. Bukankah kekayaan pemiliknya lebih baik diukur dengan seberapa bermanfaat sang pemilik dan harta yang dimiliki untuk sesama? Untuk itu, tidak harus semua perabot yang mengisinya bernilai mahal. Yang penting, setiap benda yang masuk ke dalam rumah dapat bermanfaat dan berfungsi maksimal. Mulai dari ruang paling depan hingga paling belakang, akan kupastikan hanya benda yang punya manfaat boleh menempati. Lebih dari itu, akan kupersilakan mereka memilih tempat di belahan bumi yang lain.

Buku, mesin jahit dan alat dapur mingkin akan menjadi alat yang wajib menghuni rumah kami. Duhai calon suamiku yang kelak menjadi imam di rumah kita, izinkanlah istrimu kelak tetap menekuni hobinya membaca, berkreasi degan mesin jahit dan melakukan berbagai eksperimen masakan dengan alat dapur yang tersedia. Jikapun alat yang dibutuhkannya belum ada, biarkan istrimu ini menabung dari hasil jerih payahnya sendiri. atau jika kau ingin membantu mengisi rumah dengan apa-apa yang istrimu butuhkan, aku akan bahagia sekali.

Soal bentuk dan warna isi rumah, biar nanti kudiskusikan lebih detail dengan suami. Aku tak ingin memikirkan semuanya sendiri. Belahan jiwa dan pendamping hidup adalah orang yang paling berhak mengambil separuh dari kehidupanku. Maka bersama dengan pilihan dan kebijakannya pula, aku ingin kami selalu bahagia apapun yang terjadi.

Semoga dia sepakat, rumah itu berdiri agak jauh dari jalan besar. Jika tanah tempat berdirinya ada di tepi jalan sekalipun, rumah itu akan tetap berdiri dengan jarak yang memungkinkan beberapa mobil dapat parkir dengan aman di depan rumah. Itu berarti aku berharap adanya pekarangan yang cukup luas. Ya, karena selain untuk parkir, pekarangan rumah akan kufungsikan sebagai apotek hidup dan sumber makanan cadangan.

Apotek hidup itu akan kuisi dengan berbagai tanaman obat, mulai dari umbi-umbian yang “pasaran” seperti kunyit, jahe, kencur, daun jeruk, serai, sampai daun sirih, binahong, lengkuas, kunyit putih, temu lawak, jeruk lemon, juga daun ungu. Sedangkan untuk sumber makanan cadangan akan kuisi dengan tanaman cabai, tomat, buah kelengkeng, mangga, pisang, srikaya, sirsak, buah tin, dan kalau ada lahan yang cukup luas bisa kutanami dengan pohon matoa. Oh ya, aku juga ingin menanam bunga melati dan mawar agar menjadi pemanis diantara berbagai tanaman.

Entah berapa ratus atau ribu persegi tanah yang akan kami butuhkan untuk semua itu. Bukankah ini masih mimpi? Biarkan saja mimpiku berkelana dulu. Menjelajahi setiap jengkal dalam kepala, lalu menuangkannya dalam tulisan. Biarkan mimpi ini mengendap, lalu menguar liar, hingga menemani setiap langkah dan angan yang melayang, dan suatu saat menjadi kenyataan.


Rumah impian ini bisa jadi mahal, jika kita mengukurnya dari ketidakberdayaan untuk mewujudkan. Tapi bisa jadi murah sekali, jika kita optimis menjadikannya pasti. Duhai seseorang yang menjadi suami dan pemimpinku nanti, izinkan mimpi ini tidak menjadi milikku sendiri. Karena aku tak pernah suka hidup sendiri selama ini, karena kita harus mewjudkannya bersama suatu hari nanti.


15 komentar:

  1. aamiin semoga terwujud mimpinya..

    BalasHapus
  2. Setiap orang punya mimpi. Semoga mimpi mbak segera terwujud. Aamiin

    BalasHapus
  3. Waaah... Sudah banyak sekali planning rumah impiannya. Semoga yang baik-baik segera terwujud Kak. Aamiin

    BalasHapus
  4. Aku yang tak punya mimpi ini, sangat iri melihat mimpi yang begitu indah.

    BalasHapus
  5. Semangaaat meraih impian kak:)

    BalasHapus
  6. Never underestimate the power of the dream. Mimpi itu punya kekuatannya, saya percaya itu. Saya suka postingan ini. Top! Terima kasih sudah berbagi dan sudah mengingatkan saya pentingnya bermimpi dan terus menjaga mimpi ini.

    BalasHapus
  7. amin, semoga lekas tercapai ya. bagus cara menangkan mimpinya dalam tulisan.

    BalasHapus
  8. Semangat kak, semoga mimpinya segera terwujud. Aamiin

    BalasHapus
  9. Semoga mimpinya lekas terwujud mba,

    Amiin

    BalasHapus
  10. Syemangaaat...next cerita ditunggu yaa ;)

    BalasHapus

Kaos ODOP

Hasil jadi kaos Kira-kira tiga atau empat bulan pasca Kopdar Akbar ODOP pertama, ada wacana ingin membuat kaos ODOP. Koordinatornya...