Jumat, 25 Januari 2019

Hiday Nur, Karena Engkau Istimewa

Kenangan pertama kali bertemu Mbak Hiday di UIN Suka



Saya mengenalnya pertama kali di dunia maya, di sebuah group komunitas penulis, One Day One Post. Mbak Hiday, begitu saya pertama memanggilnya.
Adalah ibu dari seorang putra bernama Krisna dan seorang putri yang saya lebih suka memanggilnya dengan nama Kazumi. Setelah mengenal lebih jauh, memanggil “Bu” kok rasanya rikuh, ya? Biarlah panggil Mbak, mengingat semangatnya yang seolah tak pernah menua.

Pertama kenal, semua tampak biasa. Tapi waktu selalu mampu menuntut kita mengenali lawan bicara, bukan? Di group ODOP (singkatan dari One Day One Post), Mbak Hiday selalu vokal saat beliau senggang. Memberi semangat, motivasi, sampai menggiring dialog agar selalu bermanfaat dan tidak terlalu jauh melenceng dari dunia kepenulisan. Padahal kami tahu, kegiatan beliau di dunia nyata seabreg, jadwal selalu padat, agenda hampir tak bercelah. Entah dapat tenaga dari mana beliau bisa membagi waktu dan tenaga sedemikian rupa seperti amoeba?

Mbak Hiday, adalah satu diantara sekian wanita istimewa yang pernah saya temui. Darinya saya mengenal kegigihan, kerja keras, tekad luar biasa, sekaligus tenaga tak terbatas usia demi membuat mimpi-mimpi menjejak nyata. Keberhasilan Mbak Hiday meraih status awardee LPDP tahun 2016 untuk pendidikan master studi Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya, sampai kesempatan terbang ke Jerman sebagai awardee Life of Muslims in Germany 2017, adalah sebagian kecil dari buah semangat dan kerja keras yang sudah dilalui sebelumnya. Beliau pernah berperan sebagai guru, menahan diri dari menerima beasiswa S2 saat anak-anak masih butuh perhatian maksimal seorang bunda, tapi tentu semua proses itu dilaluinya tanpa sia-sia. Entah berapa ribu buku telah terbaca, berapa orang hebat lain diajaknya bicara dan diskusi banyak hal, berapa ratus naskah yang dihasilkannya, sebagian sudah terbit dalam bentuk modul dan bahan ajar, antologi, sampai berbagai naskah yang menghiasi wajah media. Benar-benar multitalenta.

Sebagian besar yang lain? Mbak Hiday berhasil menjadi Ibu yang istimewa bagi anak-anaknya. Saya tahu, bagaimana seorang Krisna mampu bersikap dewasa sejak belia, dan seorang Kazumi mampu berbesar hati sejak dini. Itu semua tentu tak bisa terwujud jika Mbak Hiday tidak maksimal menjalani peran sebagai istri dan ibu yang luar biasa. Ah, benar-benar wanita langka. Satu sisi sukses dalam membina rumah tangga, sisi lain sayapnya terbang menjelajahi dunia.

Kini, Mbak Hiday tak lagi sibuk mengajar di kelas. Kesibukan beliau berganti, menanjak sesuai peningkatan kapasitas diri. Founder Nulis Aja Community ini sekarang sedang sibuk mempersiapkan diri memberi manfaat yang lebih luas lagi, salah satunya melalui Sanggar Caraka, tempat dan semangat baru bagi dunia literasi di Bumi Wali. Lainnya? Silakan cari tahu sendiri, ya.

Begitu banyak amanah yang kau emban, tentu bukan tanpa alasan. Kuatkan selalu pundak menanggung tuntutan dari setiap impian, karena engkau istimewa. Sukses selalu Mbak Hiday, do’a kami menyertai. Semoga setiap mimpi yang menjejak pasti, selalu dinaungi ridha Illahi. Semoga setiap cita yang menjadi nyata, membawa manfaat pada dunia, dan abadi pahalanya hingga akhir masa.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Give Away Hiday dan Sahabat 

4 komentar:

Resensi Jalan Cinta Para Pejuang

Judul                     : Jalan Cinta Para Pejuang Penulis                 : Salim A. Fillah Penerbit               : Pro U Me...